Syekh Yusuf muda dikirim untuk
belajar agama di berbagai tempat. Ia belajar di Banten dan Aceh sebelum
akhirnya melakukan perjalanan ke Timur Tengah untuk mendalami ilmu Islam.
Syekh Yusuf lahir dari pasangan Abdullah dengan Aminah. Ketika lahir ia dinamakan Abadin Tadia Tjoessoep (bahasa Arab: عابدين تاجة يوسف) atau Muhammad Yusuf, suatu nama yang diberikan oleh Sultan Alauddin (berkuasa sejak 1593 - wafat 15 Juni 1639, penguasa Gowa pertama yang muslim), raja Gowa, yang juga adalah kerabat ibu Syekh Yusuf.
Ia merupakan putra dari Abdullah Khidhir, seorang bangsawan lili yang bergelar Tuanta Manjalawi, artinya tuan kita dari negeri Manjalawi, daerah-daerah di sebelah selatan Gowa.
Versi lain menyebutkan, ayah Syekh Yusuf ini bersepupu dengan Sombaya ri Gowa (Raja Gowa) ke-14, I Manga'rangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin (1586-1632).
Sementara ibunya adalah Aminah I Tubiani Daeng Kunjung, putri Daengta Gallarang Moncong Loe. Daengta Gallarang ini diduga bersepupu dengan Daeng Manrabbia Sultan Alauddin dan Tuanta Manjalawi.
Syekh Yusuf belajar ke Pesantren Cikoang pada Syekh Sayyid Alwi Jalaluddin Bafagih (keturunan Imam Muhammad Maula Aidid), Kembali dari Cikoang, Syekh Yusuf menikah dengan putri Sultan Gowa, lalu pada usia 18 tahun, Syekh Yusuf pergi ke Banten. Di Banten ia bersahabat dengan Pangeran Surya (Sultan Ageng Tirtayasa), yang kelak menjadikannya mufti Kesultanan Banten.
Pada tahun 1644, Syech Yusuf menunaikan ibadah haji dan tinggal di Mekkah untuk beberapa lama, dimana Ia belajar kepada ulama terkemuka di Mekkah dan Madina. Syekh Yusuf juga sempat mencari ilmu ke Yaman, berguru pada Syekh Abdullah Muhammad bin Abd Al-Baqi, dan ke Damaskus untuk berguru pada Syekh Abu Al-Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub Al-Khalwati Al-Quraisyi. Syech Yusuf mempelajari Islam sekitar 20 tahun di Timur Tengah.

Komentar
Posting Komentar