Tuanta Salamka ri Gowa Syekh Yusuf Abul Mahasin Al-Taj Al-Khalwati Al-Makassari Al-Banteni

Di Afrika Selatan, tepatnya di Cape Town, ia melanjutkan dakwahnya dan menyebarkan ajaran Islam di kalangan budak dan komunitas Muslim setempat. Ia dikenal sebagai pahlawan nasional di Afrika Selatan karena kontribusinya terhadap penyebaran Islam di sana. 

Syekh Yusuf. Ulama Makassar yang telah menginjak usia 68 tahun ini dipindahkan dari Ceylon ke Cape Town, Afrika Selatan (Afsel). Ada dua perspektif yang bisa dipakai. Di satu sisi, sufi-pejuang tersebut kian jauh dari tanah kelahirannya. Di sisi lain, kehadirannya di Benua Hitam ternyata ikut merintis dakwah dan perkembangan Islam bagi penduduk setempat.

Belanda mulai mendirikan koloni di Afrika Selatan pada 1652. Belasan tahun kemudian, daerah itu menjadi tujuan pembuangan lawan-lawan politik kolonial. Sebelum kedatangan Syekh Yusuf al-Makassari, sudah ada tiga orang tahanan politik asal Sumatra Barat yang dibuang ke sana pada 1667. Dua orang dicampakkan ke hutan, sedangkan seorang lainnya ditahan di Pulau Robben, Afsel. Mereka adalah Urang Kayo (Belanda: Cayen) yang nama-namanya tidak dicantumkan pada nisan setempat.

Pada 2 April 1694, Syekh Yusuf dan para pengikutnya tiba di Afsel dengan menumpang kapal De Voetboeg. Mereka semua dalam keadaan di belenggu sejak meninggalkan Sri Lanka. Rombongan tahanan Syekh Yusuf berada di wilayah Zandfliet, dekat False Bay. Kendati mengalami isolasi, penduduk lokal masih dapat menerima pengajaran darinya sehingga dakwah Islam menyebar dari kampung ke kampung. Afsel saat itu merupakan daerah yang dihuni banyak buruh kerja paksa yang didatangkan untuk membangun koloni-koloni Belanda. Sebagian dari mereka tertarik pada ajaran Islam, alih-alih kristenisasi yang gencar dilakukan Barat.

Di Afrika Selatan, Syekh Yusuf tetap berdakwah, dan memiliki banyak pengikut. Menurut Tesis Suleman Essop Dangor (1981) bahwa Syekh Yusuf telah menulis sekurang-kurangnya 15 buku dalam bahasa Arab, Bugis, dan Melayu. Banyak karyanya yang sampai hari ini masih tersimpan di Perpustakaan Leiden, Belanda. Kegemarannya menulis kitab-kitab sudah ditekuninya sejak masih menjabat mufti di Banten hingga berstatus tahanan politik di pengasingan, baik Batavia, Sri Lanka, maupun Afsel.

Syekh Yusuf berpulang ke rahmatullah pada 23 Mei 1699 atau lima tahun setelah penahanan di Zandfliet. Jenazah almarhum dikebumikan di Zandfliet, yang kini bernama Desa Macassar, Cape Town, Afsel.

Ketika ia wafat pada tanggal 23 Mei 1699, pengikutnya menjadikan hari wafatnya sebagai hari peringatan. Bahkan, Nelson Mandela, mantan presiden Afrika Selatan, menyebutnya sebagai 'Salah Seorang Putra Afrika Terbaik'. Jenazah Syekh Yusuf Tajul Khalwati dibawa ke Gowa atas permintaan Sultan Abdul Jalil (1677-1709) dan dimakamkan kembali di Lakiung, pada April 1705. Kemudian Syekh Yusuf Allahu yarham dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Soeharto dengan SK Presiden : Keppres No. 071/TK/1995, Tgl. 7 Agustus 1995. Pada tahun 2005, Syekh Yusuf dianugerahi penghargaan Supreme Companion of OR Tambo in gold, for heads of state and, in special cases, heads of government (SCOT) pada 27 September 2005 kepada ahli warisnya yang disaksikan oleh Wapres RI. M. Yusuf Kalla di Pretoria Afrika Selatan.

Komentar