Tuanta Salamka ri Gowa Syekh Yusuf Abul Mahasin Al-Taj Al-Khalwati Al-Makassari Al-Banteni

Ketika Kesultanan Gowa mengalami kalah perang terhadap Belanda, Syekh Yusuf pindah ke Banten dan diangkat menjadi mufti di sana. Pada periode ini Kesultanan Banten menjadi pusat pendidikan agama Islam, dan Syekh Yusuf memiliki murid dari berbagai daerah, termasuk 400 orang asal Makassar yang dipimpin oleh Ali Karaeng Bisai. Dan saat pecah perang antara Kesultanan Banten melawan VOC, Syekh Yusuf tampil sebagai pimpinan perang memimpin 700 pasukan Makassar yang ikut bergabung sebelumnya

Untuk memperkuat jiwa menghadapi jihad melawan musuh, Syaikh Yusuf menjalin kerjasama dengan ulama-ulama besar, baik dari Aceh atau dari Tanah. Hubungan politik dan diplomatik dengan penguasa muslim, terutama dengan para Syarif di Mekah, kerajaan Mongol di India, dan dengan kerajaan Turki di Istambul terus dikembangkan. 

Sultan Ageng Tirtayasa telah menunjuk putra sulungnya yaitu Pangeran Gusti dan lebih dikenal sebagai Sultan Haji yang pada saat itu masih muda sebagai putra mahkota untuk menghindari perang yang dapat terjadi akibat pergantian pimpinan. Sultan Haji mempunyai wewenang yang cukup besar, sehingga semua kebijakan Sultan Ageng harus merupakan hasil musyawarah antara Sultan Ageng, penasehat, dan putra mahkota. Sultan Ageng memberikan Sultan Haji kekuasaan untuk mengatur semua urusan dalam negeri di Kraton Surosowan, sedangkan urusan luar negeri sepenuhnya masih dipegang oleh Sultan Ageng Tirtayasa. Sejak itu Sultan Ageng pindah ke Kraton Tirtayasa yang terletak di Pontang, desa Tirtayasa, karena itulah Sultan disebut sebagai Sultan Ageng Tirtayasa.

Kepindahan Sultan Ageng Tirtayasa tersebut dimanfaatkan oleh Belanda untuk mendekati Sultan Haji, dan pada akhirnya Sultan Haji sedikit-demi sedikit dapat dipengaruhinya. Di bidang perdagangan maupun bidang lainnya, pihak Kompeni Belanda banyak mendapatkan kemudahan, bahkan dalam setiap upacara penting di istana, wakil Belanda selalu hadir. Sultan Haji dan Belanda memiliki hubungan yang semakin dekat sehingga bisa merubah tingkah laku Sultan Haji dalam kehidupan sehari-hari. Pada bulan Mei 1680 M Sultan Haji mengirim utusan kepada Gubernur Jendral VOC di Batavia untuk menawarkan perdamaian dan Sultan Haji menegaskan bahwa yang berkuasa di Banten sekarang adalah dirinya. Sultan Haji menyatakan bahwa ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa telah menyerahkan seluruh kekuasannya. Belanda mengetahui bahwa Sultan Ageng belum meletakkan jabatannya sehingga Belanda menolak tawaran dari Sultan Haji. Untuk itu Belanda mendorong Sultan Haji untuk segera memperoleh kuasa penuh di Banten. 

Sultan Agung Tirtayasa yang dipaksa untuk mengundurkan diri oleh putranya sendiri dari jabatan Sultan Banten, menolak keputusan sepihak dari Sultan Haji. Sultan Ageng kemudian mengumpulkan pasukannya di Tirtayasa, dan perang pun tak terelakkan lagi. Syaikh Yusuf Al-Makassari dan Sultan Ageng melakukan penyerangan terhadap Sultan Haji di Surosowan. Rakyat Banten tetap setia mendukung di dalam barisan Syaikh Yusuf.

Syaikh Yusuf Al-Makassari senantiasa mengajarkan rakyat Banten untuk tidak takut kepada penjajah Belanda. Mereka adalah orang-orang kafir yang harus diperangi. Semangat jihad yang dirasakan oleh rakyat Banten terus meningkat, karena hanya ada satu pilihan bagi mereka yaitu hidup mulia atau mati syahid.

Sejak kekalahan dalam Perang Makassar banyak bangsawan, saudagar, dan pelaut Makassar yang meninggalkan kampung halamannya pergi merantau ke seluruh kepulauan Nusantara. Para pengungsi Makassar dan Bugis generasi awal telah beradaptasi dengan baik di lingkungan barunya. Kebanyakan orang Bugis kemudian menetap di wilayah kepulauan Riau dan Semenanjung Malaya, sementara orang Makassar di Jawa dan Madura. Sedangkan dalam jumlah kecil mereka menyebar hampir di seluruh wilayah kepulauan Nusantara. Pejuang Makassar dan Bugis diterima dengan cukup baik oleh Kesultanan Banten. Peranan pejuang Makassar dan Bugis yang anti Kompeni Belanda cukup berpengaruh dalam perjuangan untuk membendung penetrasi Belanda di Banten. Para pejuang Makassar dan Bugis tersebut juga ingin membalaskan dendam atas kekalahan yang dialami dalam perang Makassar. Perjuangan mereka juga dijiwai oleh ideologi anti kafir. Mereka memandang bahwa Jawa merupakan benteng pertahanan terakhir terhadap agresi Belanda, sehingga kesatuan kontingen Makasar dan Bugis berdatangan ke Banten. 

Banyaknya orang-orang Makassar dan Bugis yang berdatangan ke Banten membuat Syaikh Yusuf Al-Makassari ingin mengadakan kerja sama dengan mereka. Untuk melawan pasukan-pasukan Belanda yang berjumlah cukup banyak, maka Banten membutuhkan banyak pasukan juga. Syaikh Yusuf tidak mengharuskan hanya orang Banten saja yang bisa bertempur, namun orang-orang dari berbagai daerah bisa ikut berperang melawan penjajah Belanda. Syaikh Yusuf Al-Makassari mempunyai saran untuk membentuk pasukan khusus baik dari orang Banten, Bugis, dan Makassar untuk menyerang pasukan Belanda secara sembunyi-sembunyi. Menurut Syaikh Yusuf, sangat sulit untuk mengadakan perang terbuka melawan Belanda karena persenjataan Banten jauh lebih lemah dan banyak kekurangan kalau dibandingkan senjata Belanda.

Syaikh Yusuf Al-Makassari dan Sultan Ageng melakukan penyerangan terhadap Sultan Haji di Surosowan. Dalam waktu sebentar saja disekeliling kota Banten sudah dikepung oleh tentara Sultan Ageng, hanya tinggal benteng pertahanan tempat Sultan Haji bertahan. Dengan segera Sultan Haji mengirimkan kurirnya kepada armada Belanda yang berada tidak jauh dari pantai Banten, di bawah pimpinan komandannya De Saint Martin. Setelah mengadakan perjanjian dengan Belanda yaitu Sultan Haji akan memberikan seluruh keuntungan perdagangan Banten kepada Belanda, bantuan kompeni dikirim dari Batavia. Bantuan datang tepat pada waktunya di bawah Kapten Francois Tack. Menggunakan senjata lengkap dan lebih modern, disertai pengalaman-pengalaman berperang di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Makassar, tentara Kompeni berhasil memukul mundur pasukan Sultan Ageng, sehingga Sultan Haji terhindar dari pengepungan Sultan Ageng.

Komentar