Tuanta Salamka ri Gowa Syekh Yusuf Abul Mahasin Al-Taj Al-Khalwati Al-Makassari Al-Banteni

Ketika pasukan Sultan Ageng dikalahkan Belanda tahun 1682, Syekh Yusuf ditangkap dan diasingkan ke Srilanka pada bulan September 1684

Sultan Ageng Tirtayasa dan Syaikh Yusuf Al-Makassari beserta pasukannya terpaksa mengundurkan diri kembali ke benteng istana Tirtayasa. Dalam bukunya F. de Haan yang berjudul Priangan mencatat detik-detik pertempuran antara kedua belah pihak. Pimpinan tentara Kompeni, seperti Kapten Sloot, W.Caef, Francois Tack, Hartsinck, De Ruys dan Kapten Van Happel berhadapan dengan pimpinan tentara Sultan Ageng Tirtayasa, seperti Pangeran Dipati, Pangeran Kidul, Pangeran Purbaya, dan Syaikh Yusuf Al-Makassari.

Pada bulan Maret 1682 berkecamuk perang di Banten baik di darat maupun di laut. Pada tanggal 29 Desember 1682 M, tentara Kompeni akhirnya menuju ke Tirtayasa, tempat Kraton Sultan Ageng dan pusat pemerintahannya. Akhirnya terjadilah pertempuran sengit antara Belanda dan pasukan Banten. Korban banyak berjatuhan dipihak pasukan Banten ketika mempertahankan Tirtayasa. Kompeni mendapat bantuan persenjataan yang lengkap, sehingga Tirtayasa tidak dapat dipertahankan lagi. Sultan Ageng memutuskan untuk meninggalkan kraton Tirtayasa yang sudah tidak aman dan tidak dapat dipertahankan lagi. Pada akhirnya Sultan Ageng memerintahkan supaya kraton harus dibumi hanguskan terlebih dahulu agar kompeni tidak menjadikannya benteng pertahanan. Kemudian mereka mundur dan melakukan perang gerilya.  

Sultan Ageng Tirtayasa pada akhirnya ditangkap pada Maret 1683. Ini terjadi karena Kompeni membujuk Sultan Haji dengan segala tipu muslihatnya supaya mengirim surat kepada Sultan Ageng yang sudah tua untuk dilindungi di Istana Surosoan. Pada akhirnya Sultan Ageng menyerahkan diri kepada putranya di Surosoan dan tidak lama kemudian ia ditangkap oleh Kompeni dan segera dibawa untuk dimasukkan penjara di Batavia. 

Tertangkapnya Sultan Ageng Tirtayasa tidak mengakhiri perang yang terjadi. Pasukannya kini diambil alih oleh Syaikh Yusuf. Dia terus melakukan reaksi terhadap penindasan yang telah dilakukan Belanda kepada rakyat Banten. Syaikh Yusuf, Pangeran Kidul dan Pangeran Purbaya terus mengobarkan perang melawan Belanda. Mereka berpindah-pindah tempat dalam melakukan penyerangan terhadap Belanda karena Kesultanan Banten sudah dikuasai Belanda. Syaikh Yusuf Al-Makassari kemudian melakukan perang gerilya. 

Van Happel tidak mampu mengejar gerilyawan Syikh Yusuf Al-Makassari bersama Pangeran Kidul karena rintangan alam yang berat, terdiri atas hutan yang lebat dan pegunungan yang sukar untuk dipanjat. Syaikh Yusuf memimpin 5000 orang tentara terdiri dari orang Banten, Bugis, Melayu, dan Makassar yang siap mati bersama gurunya. Perjalanan Syaikh Yusuf akhirnya sampai ke Sukabumi tepatnya di Mandala di daerah Sukapura. Tempat itu dijadikan benteng pertahanan yang sangat strategis, sehingga tentara kompeni merasa sulit untuk melakukan serangan-serangan. Penduduk didaerah tersebut menutupi dan merahasiakan tempat persembunyian Syaikh Yusuf dan pasukannya. Serangan-serangan yang diarahkan untuk menembus pertahanan di Mandala ini selalu gagal. Penghormatan penduduk kepada Syaikh Yusuf sebagai ulama dan orang suci menyebabkan mereka rela berkorban untuk mati syahid.

Pihak Kompeni Belanda, khususnya Van Happel sudah kewalahan dan hampir putus asa dalam menghadapi gerilyawan Syaikh Yusuf Al-Makassari dan pasukannya. Setelah beristirahat beberapa hari, Van Happel mempunyai rencana untuk menjalankan tipu muslihat secara halus, yaitu ia datang ke markas sementara Syaikh Yusuf dengan berpakaian Arab, dibawa serta putri Syaikh Yusuf yang bernama Asma’, dan berpura-pura sebagai tahanan Kompeni yang diperlakukan secara baik. Cara seperti itu akhirnya membuatnya bisa sampai di tempat Syaikh Yusuf yang terletak di sebuah kampung yang bernama Karang atau Aji Karang, di sebelah Cimandala dan Cigugur sekitar Parigi (Ciamis). Van Happel memohon maaf atas kedatangannya, lalu membujuk dengan segala macam janji yaitu pengampunan dari pihak Belanda apabila ia mau menyerah yang diucapkannya dalam bahasa Melayu yang fasih (Azyumardi Azra, 1994: 278). Karena iba dengan keadaan putrinya Asma', Syaikh Yusuf menerima bujukan Van Happel. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 14 Desember 1683 M.

Komentar