Lima Opu Kerajaan Luwu di Tanah Melayu

 

Lima Opu Bersaudara, beserta ayahnya OPU DAENG RILEKKE'

Masyarakat Bugis-Makassar mewarisi darah sebagai petualang. Mereka memiliki kapal pinisi dengan dua tiang utama dan tujuh buah layar. Kapal yang besar ini menjadi andalan  perniagaan sebelum adanya kapal-kapal besi dan terbukanya jalur udara. Dengan modal yang besar, beserta keberanian yang teguh, masyarakat Bugis-Makassar yang mendiami Sulawesi, telah dikenal dalam sejarah besar Indonesia. 

Dalam sejarah Melayu, para pengembara Bugis-Makassar memiliki posisi yang agung. Mereka berniaga, menadi orang kaya dan terpandang, kawin-mawin dengan keluarga kerajaan, bahkan mendirikan kerajaan sendiri. Mulai dari Kerajaan Siak, Linggau, hingga Kerajaan Selangor di Malaysia. Raja Lumu, raja pertama Selangor merupakan keturunan langsung dari Daeng Chelak, salah satu saudara dari Lima Opu Sulawesi yang terkenal. Sampai hari ini takhta dan darah Daeng Chelak masih kuat mengalir dalam tubuh Sultan Sharafuddin Idris Shah Al-Haj Sultan Selangor IX yang berkuasa sejak tahun 2001 hingga saat ini. 

Perpindahan besar-besaran masyarakat Bugis-Makassar dari kampungnya di Sulawesi Selatan dimulai pada paruh kedua abad ke-17, utamanya karena perang yang berujung pada labilnya keadaan politik. Kekalahan kerajaan Gowa dari VOC pada 1669 yang berujung penandatanganan Perjanjian Bongaya menutup sebagian besar mata pencaharian masyarakat Bugis di tanah sendiri. Mereka terpaksa mencari suaka baru. Selain itu juga demi menyelamatkan diri dari tindak balas dendam setelah perang.

Cerita tentang eksodus ini memang lebih sering tragis, namun di balik itu ada cerita sukses yang spektakuler. Di antaranya adalah perihal orang Bugis yang menetap di Semenanjung Malaya dan pulau-pulau di sekitarnya pada abad ke-17 dan ke-18. Mereka tidak hanya berbaur dengan masyarakat setempat; mereka kawin-mawin dengan keluarga istana, bahkan membentuk dinasi di Selangor, Malaysia. 

Nama Opu Daeng, itu merupakan perpaduan dua nama gelar bangsawan di Sulawesi Selatan, yakni “Opu” adalah gelar bangsawan dari Kerajaan Luwu, sedangkan “Daeng” biasanya dipakai oleh gelar bangsawan dari Kerajaan Gowa atau suku Makassar.

Petualangan 5 pendekar bangsawan Bugis Makassar ke negeri Melayu, telah banyak mengundang simpati dari masyarakat dan pemerintah setempat. Atas keberanian membela kaum tertindas membuat mereka disegani oleh lawan dan dihormati oleh kawan.

Di antara kisah sukses itu, tersebutlah Opu Tenriborong Daeng ri Lakke beserta kelima anaknya: Opu Daeng Parani yang menjadi Panglima Perang di Kerajaan Selangor, Opu Daeng Manambung menjadi Raja Mempawah di Kalimatan Barat, Opu Daeng Marewa menjadi Yam Amtuan Muda pertama di Kerajaan Johor, Opu Daeng Cellak menjadi Yam Amtuan Muda kedua Kerajaan Johor, dan Opu Daeng Kamase menjadi Pangeran Mangkubumi Kerajaan Sambas.

Kisah pendekar Opu Daeng ini bermula ketika salah seorang putra Datu Luwu ke 24 dan 26 La Tenri Leleang bernama La Maddusila, yang diangkat menjadi Raja Tanete Barru. La Maddusila kawin dengan putri Datu Soppeng ke 23 bernama I Seno Tanribali Datu Citta. Hasil perkawinannya membuahkan seorang anak bernama Opu Tenriborong Daeng Lakke.

Dalam Tuhfat al-Nafis karangan Raja Ali Haji, dijelaskan bahwa Opu Daeng Ri Lakke berasal dari kerajaan Luwu. Ia merupakan putra Opu La Maddusila, raja Luwu pertama yang memeluk agama Islam. Opu Lamaddusila sendiri adalah nenek moyang raja-raja Luwu, Soppeng dan Arung Betteng atau Bettempola di Wajo. Ia adalah putra Rangreng Taloktenreng Wajo.

Opu Tenriborong itu kawin dengan gadis bangsawan dari Kerajaan Gowa. Dari hasil perkawinannya ini, membuah lima orang, yakni Daeng Parani, Daeng Manambung, Daeng Marewa, Daeng Cellak dan Daeng Kamase. Kelima bersaudara ini memiliki jiwa ksatria.

Dari modal keberanian tersebut, mereka merantau ke negeri Melayu. Sampai di sana mereka membantu perjuangan rakyat dan pemerintah tempat ia datangi. Beberapa negeri yang pernah dibantu diantaranya, membantu Sultan Zainuddin di Negeri Matan, Sultan Sulaiman di Negeri Johor, Sultan Adil di Sambas juga beberapa negara Melayu lainnya seperti Selangor, Kedah dan Johor.

Dari hasil perjuangan itu, kelimanya selain diangkat menjadi raja juga sekaligus diangkat menjadi menantu. Seperti halnya Opu Daeng Manambung kawin dengan putri Kesumba yang merupakan anak sulung Raja Matan Sultan Zainuddin sekaligus menjadi raja di Mempawah bergelar Pangeran Emas Surga Negara. Daeng Parani kawin dengan putri bangsawan Kerajaan Siantan, salah satu kerajaan kecil di negeri Johor, dan sekaligus menjadi panglima perang Kerajaan Selangor dan Kedah. Daeng Marewa kawin dengan Ongku Encik Ayu anak dari Tumenggung Kerajaan Johor dan sekaligus menjadi Yam Amtuan Kerajaan Riau pertama, Daeng Cellak kawin dengan Tengku Tengah, adik dari Yam Amtum Kerajaan Johar dan sekaligus menjadi Yam Antum Kerajaan Riau kedua. Terakhir Opu Daeng Kamase yang merupakan adik bungsu kelima Opu Daeng ini, kawin dengan adek Raja Sambas bernama Urau Tengah atau Raden Tengah dan sekaligus menjadi Pangeran Mangkubumi Kerajaan Sambas.

Turunannya kemudian banyak menjadi pembesar, seperti putra Daeng Cellak bernama Raja Ali Haji yang menjadi pujangga terkenal di negeri Melayu dan kini dinobatkan sebagai pahlawan nasional. Bahkan awal kedatangan Opu Daeng Manambung di Mempawah, yang ditandai dengan acara pesta Robo-robo setiap Rabu terakhir bulan Syawal setiap tahunnya.




Komentar