Disebuah kapal,5 Opu beserta ayahnya tampak melakukan pelayaranmeninggalkan tanah kelahiran mereka di Sulawesi Selatan dan melakukan petualangan ke berbagai daerah di Nusantara, termasuk Semenanjung Malaya (Malaysia saat ini), Sumatra, dan Kalimantan. Mereka mencari peruntungan dan berusaha untuk menyebarkan pengaruh Bugis-Makassar.
Salasilah Melayu Bugis karangan Mohd. Yusuf Md Nur menceritakan bahwa suatu ketika Daeng Manambung bermimpi kemaluan Daeng Chelak menjulur ke laut menjadi naga, sementara kepala naga itu menghadap ke sebelah barat. Mendapatkan cerita dari anaknya, Opu ri Lakke menganggap mimpi itu merupakan suatu pertanda akan nasib baik baginya dan anak-anaknya.
Berangkatlah mereka ke Betawi, Siantan, Malaka, hingga Riau. Sebelum bertolak ke Melayu, mereka mampir di Betawi menemui Opu Bimbi Daeng Biyasa, kakak dari Opu ri Lakke. Dia lebih dulu meninggalkan Luwu dan tinggal di Betawi. Atas jasanya, oleh Himhoff, Gubernur Batavia, diberi pangkat Mayor untuk orang Bugis dan dihadiahi sebuah perkampungan, Kampung Baru. Husni Thamri, pahlawan nasional dan Abdurrahman Saleh, yang perawatnya ditembak Belanda di Yogyakarta, adalah keturunan Opu Bimbi Daeng Biaya.
Setelah tiga bulan di Batavia, Opu Bimbi Daeng Biyasa memberikan bantuan modal, perahu dan segala perlengkapan untuk berniaga. Maka berangkatlah Opu Daeng Ri Lakke beserta anaknya ke Siantan. Di sana mereka tinggal di rumah Nakhoda Alang, nama sebenarnya Karaeng Abdul Malik, seorang peniaga yang membawa dagangannya ke seluruh daerah tanah Melayu, Sumatra, dan Kalimantan. Dia berhenti karena bangkrut, dagangannya habis dirampok dilaut. Opu Daeng Ri Lakke merencanakan berniaga dengan Nakhoda Alang. Modal dari Opu Daeng Ri Lakke, pengalaman dari Nakhoda Alang. Akhirnya mereka sepakat berniaga bersama. Dalam pelayaran membawa dagangan, tidak hanya sekali mereka dirampok di laut. Tetapi mereka selalu berjaya.

Komentar
Posting Komentar