Pong Tiku (Ne' Baso), Pahlawan dari Tana Toraja

Sampai pada akhirnya Belanda berhasil menemukan celah memasuki Benteng Alla dan membabi buta memasuki Benteng dan mengejar masyarakat di sepanjang pinggiran bukit. Bigalke kemudian menjelaskan bahwa akibat dari pengejaran itu lebih dari 900 orang dipaksa dan terpaksa melombat dari atas Benteng hingga meninggal di bebatuan yang ada di bawah Benteng. 

Setelah pengepungan yang lama, Andi Guru dan mantan letnan Tiku, Tandi Bunna' – keduanya saat itu sudah bekerja untuk Belanda – mendekati Tiku pada tanggal 26 Oktober dan menawarkan gencatan senjata. Meski awalnya tidak mau, Tiku dilaporkan diyakinkan oleh warga sipil yang mengingatkannya bahwa ibunya – yang telah meninggal dalam pengepungan – perlu dikuburkan. Setelah tiga hari gencatan senjata, pada malam 30 Oktober pasukan Belanda mengambil alih benteng, mengambil semua senjata, dan menangkap Tiku. Dia dan tentaranya terpaksa kabur ke Tondon. 

Di Tondon Tiku memulai persiapan pemakaman ibunya, persiapan yang dalam budaya Toraja memakan waktu beberapa bulan. Saat mengurus persiapan, dia menyuruh seorang penasihat mengumpulkan senjata secara diam-diam sementara yang lain disuruhnya pergi ke bentengnya di Alla' dan Ambeso. Tiku kemudian membuat persiapan untuk melarikan diri dari tahanan Belanda; dia juga mengembalikan semua properti yang dia ambil sebagai tuan, karena dia tahu dia tidak akan menggunakannya lagi. Selama di Tondon, pasukan Belanda dianggap melecehkan Pong Tiku. Malam sebelum pemakaman ibunya, pada Januari 1907, Tiku dan 300 pengikutnya melarikan diri dari Tondon, menuju selatan. 

Setelah dia diberitahu bahwa Belanda telah mengejarnya, Tiku memerintahkan sebagian besar pengikutnya untuk kembali ke Tondon sementara dia dan sekelompok lima belas orang, termasuk dua istrinya, terus ke selatan. Mereka pertama kali tiba di Ambeso, tetapi benteng itu jatuh beberapa hari kemudian, dan saat itu mereka mengungsi ke Alla'. Benteng ini pula jatuh pada akhir Maret 1907 dan Tiku mulai kembali ke Tondon melalui hutan. Dia dan para pemimpin lainnya, baik Bugis maupun Toraja, dikejar oleh pasukan Belanda. Para pemimpin lainnya menyerah kepada Belanda dan dijatuhi hukuman tiga tahun penjara di Makassar atau diasingkan ke Buton. Tiku, sementara itu, tetap bersembunyi di hutan. 

Pada tanggal 30 Juni 1907 Tiku dan dua anak buahnya ditangkap oleh pasukan Belanda; dia adalah pemimpin gerilya terakhir yang ditangkap. Setelah beberapa hari di penjara, pada 10 Juli 1907 Tiku ditembak mati oleh tentara Belanda di dekat Sungai Sa'dan; beberapa laporan menyatakan bahwa ia sedang mandi pada saat itu. Ia dimakamkan bersama seluruh keluarganya di Tondol, sementara sepupunya Tandibua' menjadi penguasa Pangala', di bawah Belanda. 

Setelah kematian Tiku, pemerintah kolonial berharap dia segera dilupakan, sebuah harapan yang tidak terwujud; Tandibua' memberontak pada tahun 1917, dan pemberontakan lokal lainnya muncul di berbagai daerah di Sulawesi sampai kaburnya Belanda setelah Pendudukan Jepang. Selama pendudukan, pasukan Jepang menggunakan Tiku sebagai simbol perjuangan Toraja melawan agresi kolonial, bekerja untuk menyatukan rakyat melawan Eropa. Walau hal ini kurang diterima di daerah taklukan Tiku seperti Baruppu' dan Sesean. Di sana, Tiku dikenang sebagai pria yang membunuh orang lain untuk mencuri istri mereka. 

Pemerintah Kabupaten Tana Toraja mendeklarasikan Tiku sebagai pahlawan nasional pada tahun 1964. Pada tahun 1970, sebuah monumen untuknya dibangun di tepi sungai Sa'dan. Tiku dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia dengan Keputusan Presiden 073/TK/2002 pada tanggal 6 November 2002. Pada peringatan kematian Tiku, upacara peringatan diadakan di ibukota provinsi Makassar. Selain beberapa jalan, Bandara Pongtiku di Tana Toraja dinamai berdasarkan namanya.

Komentar